Menyalakan Daya Bangsa: Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2026
Oleh: Sunandar Azma'ul Hadi
Oleh: Sunandar Azma'ul Hadi
Pendidikan adalah jembatan agung yang menuntun manusia menyeberang dari gelapnya kebodohan menuju terangnya ilmu pengetahuan. Ia bukan sekadar proses duduk di ruang kelas, mencatat pelajaran, atau mengejar ijazah, melainkan jalan panjang untuk mengangkat martabat manusia. Hampir semua lapisan masyarakat, dari berbagai bidang keahlian dan strata sosial, memahami bahwa pendidikan merupakan salah satu sarana tercepat untuk membawa seseorang menuju derajat kehidupan yang lebih baik. Dalam Islam, ilmu juga dipandang sebagai sebab ditinggikannya kedudukan manusia. Memang ilmu dapat diperoleh dari mana saja, tetapi lembaga pendidikan tetap menjadi ruang paling representatif karena di dalamnya berbagai hambatan belajar dapat diminimalkan, bahkan dihilangkan.
Pada hari ini, Sabtu, 2 Mei 2026, masyarakat Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Hari ini bukan sekadar tanggal seremonial dalam kalender, melainkan momentum untuk mengingat kembali perjuangan bangsa keluar dari belenggu kebodohan. Pendidikan adalah anugerah bagi mereka yang mencintai ilmu. Ia menjadi jalan perubahan bagi siapa pun yang ingin memperbaiki nasib dirinya dan keluarganya. Ia juga menjadi sarana penyelesaian masalah bagi orang-orang yang mendambakan kehidupan yang lebih damai, tertata, dan bermakna. Bagi banyak orang, pendidikan adalah pelita yang menerangi lorong panjang kemiskinan, keterbatasan, dan ketidaktahuan. Dari sanalah harapan tumbuh, mimpi disusun, dan keberanian untuk melampaui keadaan mulai menemukan bentuknya.
Kita semua sepakat bahwa pendidikan adalah sesuatu yang mulia. Namun kemuliaan ilmu tidak serta-merta hadir kepada setiap orang. Ilmu seakan memiliki hak untuk memilih kepada siapa ia akan berlabuh dan bertuan. Seseorang akan dimuliakan oleh ilmu apabila ia menunjukkan kepantasan untuk menerimanya. Kepantasan itu tampak dari kesungguhan belajar, kejernihan hati, kerendahan diri, serta tekad untuk mengamalkan ilmu yang telah dikuasai. Sebab ilmu tidak berhenti pada teori yang dihafal. Ilmu yang sejati terlihat dari sejauh mana pengetahuan itu dapat diwujudkan dalam tindakan yang memberi manfaat bagi sesama.
Karena pendidikan begitu penting, kualitas lembaga pendidikan seharusnya menjadi perhatian utama. Belakangan ini, kita sering membaca dan mendengar berbagai pemberitaan mengenai mutu lembaga pendidikan yang masih menyisakan persoalan. Pendidikan yang semestinya menjadi ladang investasi besar bagi masa depan bangsa, justru kerap dipandang sebagai bidang yang dapat dikesampingkan. Padahal hasil pendidikan memang tidak selalu tampak dalam satu atau dua tahun. Ia membutuhkan waktu panjang, kesabaran, dan konsistensi sebelum buahnya dapat dipetik. Namun kita semua menyadari bahwa fondasi bangsa yang kokoh hanya dapat dibangun melalui pendidikan. Sumber daya alam yang melimpah tidak akan banyak berarti apabila tidak dikelola oleh masyarakat yang terdidik. Sebaliknya, negara dengan sumber daya terbatas tetap dapat mencapai kesejahteraan apabila rakyatnya memiliki kualitas ilmu, keterampilan, dan karakter yang baik.
Di sebuah warung kopi kecil di pojok desa, saya pernah menyaksikan dua orang sahabat berbincang sambil menikmati kopi pada sore hari. Hamparan sawah hijau di sekitar mereka membuat suasana terasa tenang dan hangat. Keduanya memiliki profesi yang berbeda. Dari pakaian yang dikenakan, yang satu tampak sebagai petani, sedangkan yang lain adalah seorang guru. Perbedaan profesi itu terlihat jelas, tetapi ada satu kesamaan yang menyentuh hati, yaitu pakaian keduanya sama-sama lusuh, seakan telah lama ditempa usia, kerja keras, dan teriknya matahari.
Sang petani mengeluhkan kepada sahabatnya betapa sulitnya memenuhi kebutuhan dapur keluarganya. Persediaan beras di rumahnya sudah hampir habis, mungkin hanya cukup untuk hari itu atau paling lama sampai esok pagi. Setelah itu, ia belum memiliki gambaran bagaimana keluarganya dapat bertahan. Mendengar keluhan itu, sang guru tidak lantas terkejut. Ia justru membalas dengan cerita yang tidak kalah pilu. Putranya yang sedang menempuh pendidikan tinggi di sebuah universitas terancam cuti pada semester berikutnya karena ia tidak mampu lagi membayar biaya kuliah. Dengan suara berat, ia menyalahkan dirinya sendiri sebagai ayah yang merasa gagal. Setiap hari ia mengajar anak-anak orang lain hingga mereka tumbuh menjadi pribadi berprestasi, tetapi anaknya sendiri terancam berhenti kuliah karena mahalnya biaya pendidikan.
Kisah dua sahabat itu menjadi cermin bagi kita semua. Ketika petani mulai menjerit karena mahalnya harga beras, dan guru mulai menyerah karena tidak sanggup membiayai pendidikan anaknya, maka ada persoalan serius dalam cara kita menata masa depan bangsa. Pendidikan adalah investasi abadi yang produknya adalah ilmu. Karena itu seluruh sektor yang terlibat di dalamnya harus diperhatikan secara serius dan menyeluruh. Para guru yang sedang berjuang mencerdaskan kehidupan bangsa tidak seharusnya dibiarkan mengajar dengan pikiran yang terpecah oleh kebutuhan rumah tangga, bayi yang belum minum susu, kompor yang tidak menyala karena gas habis, anak yang terancam putus sekolah, atau kendaraan yang terbayang-bayang akan ditarik leasing karena tunggakan berbulan-bulan.
Bertahun-tahun seorang guru mencintai bidangnya dengan sepenuh hati. Namun, kerasnya keadaan kerap memaksanya mundur dan mencari jalan lain yang dianggap lebih layak bagi keluarganya. Inilah kenyataan yang masih terjadi di negeri ini. Ada begitu banyak orang yang meninggalkan dunia pendidikan demi pekerjaan dengan penghasilan lebih pasti. Ada yang beralih menjadi pegawai bank, bekerja di koperasi, bahkan merantau menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Apa pun pekerjaan mereka di sana, sebagian merasa itu lebih menjanjikan daripada bertahan di tanah air sendiri. Saya bahkan pernah menemukan seorang sarjana pendidikan bekerja sebagai buruh angkut sawit di Malaysia. Betapa getirnya kenyataan itu, anak bangsa yang terdidik dipaksa menanggalkan ijazahnya, lalu bertarung dengan keterampilan yang bukan bidangnya. Mereka mungkin ingin menyerah, tetapi ada senyum keluarga di rumah yang harus terus mereka jaga.
Karena itu, kita berharap investasi pendidikan benar-benar tepat sasaran. Perhatian negara dan masyarakat harus diberikan kepada mereka yang sepenuh hati menyiapkan masa depan bangsa. Para guru sedang mengisi daya anak-anak negeri agar kelak mereka mampu menjalankan mesin besar republik ini dengan kuat, jujur, cerdas, dan bermartabat. Mereka bukan sekadar pengajar di ruang kelas, melainkan penjaga api peradaban yang memastikan masa depan tidak padam sebelum waktunya.
Terima kasih kepada para pejuang tanpa tanda jasa. Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026.